Senin, 11 Juni 2012

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Oleh  Nurul Hikmah
I.                   PENDAHULUAN
Eksistensialisme  menjadi salah satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya otonomi dan  kebebasan manusia yang sangat besar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengungkungnya sehingga terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih humanis dan beradab.
Beberapa pemikiran eksistensialisme dapat menjadi landasan atau semacam bahan renungan bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin mengarah pada keautentikan  dan pembebasan manusia yang sesungguhnya.
II.                POKOK  PERMASALAHAN
1.      Apa filsafat eksistensialisme itu ?
2.      Bagaimana ciri-cirinya ?
3.      Apa saja konsep-konsep yang ditawarkan filsafat eksistensialisme?
4.      Siapa saja tokoh-tokohnya ?
5.      Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ?

III.             PEMBAHASAN
A.    Definisi filsafat eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
B.     Ciri- ciri eksistensialisme
Meskipun terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para pengikut aliran ini, namun terdapat tema-tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini yang tampak pada penganutnya. Dan mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut :
·      Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
·      Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
·      Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
·      Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
·      Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
·      Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.

C.    Konsep-konsep filsafat eksistensialisme
1.      Realitas    
Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan benda-benda materi berdasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri, dan juga tidak terdapat komuikasianatara satu dengan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia berada bersama dengan manusia lainnya sama sederajat.. benda-benda materi akan bermakna karena manusia.
Eksistensialisme berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard (Denmark, 1813-1855). Inti masalah yang menjadi pemikiran eksistensialisme adalah sekitar : Apa kehidupan manusia ? Apa pemecahan yang konkret terhadap persoalan makna « eksis » (berada).
Bagi ekistensialisme, benda-benda materi, alam fiisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dengan manusia. Jadi dunia ini bermakna karena manusia. Eksistensialisme mengakui bahwa apa yang dihasilkan sains cukup asli, namun tidak memiliki makna kemanusian secara langsung.
Diantara pandangan-pandangan eksistensialisme ialah sebagai berikut :
a.       Motif pokok dari flsafat eksistensialisme adalah apa yang disebut ‘eksistensi’, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu, bersifat humanistis.
b.      Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan didinya secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan.
c.       Manusia dipandang sebagai makhluk terbuka, realitas yang belum selesai, yang masih dalam proses menjadi. Pada hakikatnya manusia teriakat pada dunia sekitarnya, terlebih lagi terhadap sesama manusia. Eksistensialisme memberi tekanan pada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial (1980).
2.      Pengetahuan
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandanga yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tregantung pada interpretasi manusia terhadap relitas.
Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disipilin yang kaku di mana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.
3.      Nilai
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, di mana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuannya sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoh dalam situasi.


D.    Tokoh pemikir eksistensialisme
Adapun tokoh-tokoh aliran filsafat eksistensialisme adalah sebagai berikut :
1.      Soren Aabye Kiekeegaard
Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.
2.      Friedrich Nietzsche
Menurutnya, manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
3.      Karl Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.
4.      Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka.
5.      Jean Paul Sartre
Menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menentukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.
E.     Implikasi eksistensialisme terhadap pendidikan
Secara relatif, eksistensialisme tidak begitu dikenal dalam dunia pendidikan, tidak menampakkan pengaruh yang besar pada sekolah. Sebaliknya, penganut eksistensialisme kebingungan dengan apa yang akan mereka temukan melalui pembangunan pendidikan. Mereka menilai bahwa tidak ada yang disebut pendidikan, tetapi bentuk propaganda untuk memikat orang lain.
Mereka juga menunjukkan bahwa bagaimana pendidikan memunculkan bahaya yang nyata, sejak penyiapan murid sebagai konsumen atau menjadikan mereka penggerak mesin pada teknologi industri dan birokrasi modern. Malahan sebaliknya pendidikan tidak membantu membentuk kepribadian dan kreativitas, sehingga para eksistensialis mengatakan, sebagian besar sekolah  melemahkan dan mengganggu atribut-atribut esensi kemanusiaan.
Mereka mengkritik kecenderungan masyarakat masa kini dan praktik pendidikan bahwa ada pembatasan realisasi diri karena ada tekanan sosio-ekonomi yang membuat persekolahan hanya menjadi pembelajaran peran tertentu.
 Sekolah menentukan peran untuk kesuksesan ekonomi seperti memperoleh pekerjaan dengan gaji yang tinggi dan menaiki tangga menuju ke kalangan ekonomi kelas atas; sekolah juga menentukan tujuan untuk menjadi warga negara yang baik, juga menentukan apa yang menjadi kesuksesan sosial di masyarakat. Siswa diharapkan untuk belajar peran-peran ini dan berperan dengan baik pula. Dalam keadaan yang demikian, kesempatan bagi pilihan untuk merealisasikan diri secara asli  dan autentik menjadi hilang atau sangat berkurang.
                        Secara filosofis, hal tersebut merupakan pemberontakan terhadap cara hidup individu dalam budaya populer. Harapan kaum eksistensialis,  individu menjadi pusat dari upaya pendidikan. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Van Cleve Morris bahwa penganut eksestensialis dalam pendidikan lebih fokus untuk membantu secara individual dalam merealisasikan diri secara penuh melalui beberapa pernyataan berikut:
a.       Saya sebagai wakil dari kehendak, tidak sanggup menghindar dari kehendak hidup yang telah ada.
b.      Saya sebagai wakil yang bebas, bebas mutlak dalam menentukan tujuan hidup.
c.       Saya wakil yang bertanggung jawab, pribadi yang terukur untuk memilih secara bebas yang tampak pada cara saya menjalani hidup.

Beberapa implikasi filsafat pendidikan eksistensialisme menurut Power :
a.    Tujuan pendidikan
Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.
b.   Status siswa
Makhluk rasional dengan pilihan bebas dan bertanggung jwab atas pilihannya.
c.    Kurikulum
Yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Oleh karena itu di sekolah-sekolah diajarkan pendidiakan sosial, untuk mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Respek kebebasan bagi yang lain adalah esensial. Kebebasan dapat menimbulkan konflik.
d.   Peranan Guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, di mana guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
e.    Metode
Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan.

IV.             KESIMPULAN
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar.
Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan benda-benda materi berdasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri, dan juga tidak terdapat komuikasianatara satu dengan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia berada bersama dengan manusia lainnya sama sederajat.. benda-benda materi akan bermakna karena manusia.
Adapun implikasi filsafat eksistensialisme terhadap pendidikan adalah tujuan pendidikan harus didesain untuk memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan kepada siswa. Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal akan tetapi diimbangi dengan  materi pendidiakan sosial, untuk mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Guru berperan melindungi dan memelihara kebebasan akademik, serta metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan.
V.                DAFTAR PUSTAKA
Sadullah, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007)
http://masjemmy.com/eksistensialisme.html
http://indramunawar.blogspot.com/2009/03/aliran-eksistensialisme-filsafat-masa.html
http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/01/eksistensialisme/
http://staff.uny.ac.id

1 komentar:

  1. mantap neng
    salam kenal
    trmksi info xe
    oyac minta no xe donk buat diskusi

    OK

    BalasHapus