I.
PENDAHULUAN
Eksistensialisme menjadi salah
satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya otonomi
dan kebebasan manusia yang sangat besar
untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan
sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang
mengungkungnya sehingga terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih
humanis dan beradab.
Beberapa pemikiran eksistensialisme dapat menjadi landasan atau semacam
bahan renungan bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin
mengarah pada keautentikan dan
pembebasan manusia yang sesungguhnya.
II.
POKOK PERMASALAHAN
1.
Apa filsafat eksistensialisme itu ?
2.
Bagaimana ciri-cirinya ?
3.
Apa saja konsep-konsep yang ditawarkan filsafat eksistensialisme?
4.
Siapa saja tokoh-tokohnya ?
5.
Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ?
III.
PEMBAHASAN
A.
Definisi filsafat eksistensialisme
Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang
bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak
benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak
benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya
masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
B.
Ciri- ciri eksistensialisme
Meskipun
terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para pengikut aliran ini, namun
terdapat tema-tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini yang tampak pada
penganutnya. Dan mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut
:
·
Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap
rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
·
Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis
terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
·
Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang
impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta
gerakan massa.
·
Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan
totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau
menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
·
Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan)
manusia di dunia.
·
Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama
eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
C.
Konsep-konsep filsafat eksistensialisme
1.
Realitas
Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal
pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada
manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan
benda-benda materi berdasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri, dan juga
tidak terdapat komuikasianatara satu dengan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia berada
bersama dengan manusia lainnya sama sederajat.. benda-benda materi akan
bermakna karena manusia.
Eksistensialisme
berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard (Denmark, 1813-1855). Inti masalah
yang menjadi pemikiran eksistensialisme adalah sekitar : Apa kehidupan
manusia ? Apa pemecahan yang konkret terhadap persoalan makna
« eksis » (berada).
Bagi ekistensialisme,
benda-benda materi, alam fiisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan
bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dengan manusia. Jadi
dunia ini bermakna karena manusia. Eksistensialisme mengakui bahwa apa yang
dihasilkan sains cukup asli, namun tidak memiliki makna kemanusian secara
langsung.
Diantara pandangan-pandangan eksistensialisme ialah sebagai berikut :
a.
Motif pokok dari flsafat eksistensialisme
adalah apa yang disebut ‘eksistensi’, yaitu cara manusia berada. Hanya
manusialah yang bereksistensi. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh
karena itu, bersifat humanistis.
b.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamis.
Bereksistensi berarti menciptakan didinya secara aktif, berbuat, menjadi, dan
merencanakan.
c.
Manusia dipandang sebagai makhluk terbuka, realitas yang belum
selesai, yang masih dalam proses menjadi. Pada hakikatnya manusia teriakat pada
dunia sekitarnya, terlebih lagi terhadap sesama manusia. Eksistensialisme memberi tekanan pada
pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial (1980).
2.
Pengetahuan
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat
fenomenologi, suatu pandanga yang menggambarkan penampakan benda-benda dan
peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakkan dirinya
terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tregantung pada interpretasi
manusia terhadap relitas.
Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh
pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat untuk
merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disipilin yang kaku di mana anak
harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak
berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.
3.
Nilai
Pemahaman
eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan
bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan
suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih,
namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah
yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, di mana seseorang harus
menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah
selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan
berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan
mungkin juga untuk suatu tujuan. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok
atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai
miliknya, sebagai tujuannya sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi.
Jadi, tujuan diperoh dalam situasi.
D.
Tokoh pemikir eksistensialisme
Adapun
tokoh-tokoh aliran filsafat eksistensialisme adalah sebagai berikut :
1. Soren Aabye Kiekeegaard
Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari
kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat
ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa
yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.
2. Friedrich Nietzsche
Menurutnya, manusia yang berkesistensi adalah manusia
yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa
manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan
bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan
karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan
dirinya sendiri.
3. Karl Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia
kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang
menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif
itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada dua fokus pemikiran
Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.
4. Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara
keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu
dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia
baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda
yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan
mereka.
5. Jean Paul Sartre
Menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan
mempunyai kebebasan untuk menentukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang
bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi
diri sendiri.
E. Implikasi
eksistensialisme terhadap pendidikan
Secara relatif, eksistensialisme tidak begitu dikenal dalam dunia
pendidikan, tidak menampakkan pengaruh yang besar pada sekolah. Sebaliknya, penganut eksistensialisme
kebingungan dengan apa yang akan mereka temukan melalui pembangunan pendidikan.
Mereka menilai bahwa tidak ada yang disebut pendidikan, tetapi bentuk
propaganda untuk memikat orang lain.
Mereka juga menunjukkan bahwa bagaimana pendidikan memunculkan bahaya yang
nyata, sejak penyiapan murid sebagai konsumen atau menjadikan mereka penggerak
mesin pada teknologi industri dan birokrasi modern. Malahan sebaliknya
pendidikan tidak membantu membentuk kepribadian dan kreativitas, sehingga para
eksistensialis mengatakan, sebagian besar sekolah melemahkan dan mengganggu atribut-atribut
esensi kemanusiaan.
Mereka mengkritik kecenderungan masyarakat masa kini dan praktik pendidikan
bahwa ada pembatasan realisasi diri karena ada tekanan sosio-ekonomi yang
membuat persekolahan hanya menjadi pembelajaran peran tertentu.
Sekolah menentukan peran untuk kesuksesan
ekonomi seperti memperoleh pekerjaan dengan gaji yang tinggi dan menaiki tangga
menuju ke kalangan ekonomi kelas atas; sekolah juga menentukan tujuan untuk
menjadi warga negara yang baik, juga menentukan apa yang menjadi kesuksesan
sosial di masyarakat. Siswa diharapkan untuk belajar peran-peran ini dan
berperan dengan baik pula. Dalam keadaan yang demikian, kesempatan bagi pilihan
untuk merealisasikan diri secara asli
dan autentik menjadi hilang atau sangat berkurang.
Secara filosofis, hal tersebut merupakan
pemberontakan terhadap cara hidup individu dalam budaya populer. Harapan kaum
eksistensialis, individu menjadi pusat
dari upaya pendidikan. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Van Cleve Morris bahwa
penganut eksestensialis dalam pendidikan lebih fokus untuk membantu secara
individual dalam merealisasikan diri secara penuh melalui beberapa pernyataan
berikut:
a. Saya sebagai wakil dari kehendak, tidak sanggup menghindar dari kehendak
hidup yang telah ada.
b. Saya sebagai wakil yang bebas, bebas mutlak dalam menentukan tujuan hidup.
c. Saya wakil yang bertanggung jawab, pribadi yang terukur untuk memilih secara
bebas yang tampak pada cara saya menjalani hidup.
Beberapa
implikasi filsafat pendidikan eksistensialisme menurut Power :
a. Tujuan pendidikan
Memberi bekal pengalaman yang luas dan
komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.
b. Status siswa
Makhluk rasional dengan pilihan bebas dan bertanggung
jwab atas pilihannya.
c. Kurikulum
Yang diutamakan adalah kurikulum liberal.
Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Oleh karena itu di
sekolah-sekolah diajarkan pendidiakan sosial, untuk mengajar respek (rasa
hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Respek kebebasan bagi yang lain adalah
esensial. Kebebasan dapat menimbulkan konflik.
d. Peranan Guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik,
di mana guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
e. Metode
Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang
metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk
mencapai kebahagiaan.
IV.
KESIMPULAN
Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang
bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak
benar.
Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal
pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada
manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan
benda-benda materi berdasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri, dan juga
tidak terdapat komuikasianatara satu dengan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia berada
bersama dengan manusia lainnya sama sederajat.. benda-benda materi akan
bermakna karena manusia.
Adapun
implikasi filsafat eksistensialisme terhadap pendidikan adalah tujuan pendidikan harus didesain untuk memberi
bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan kepada
siswa. Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal akan tetapi diimbangi
dengan materi pendidiakan sosial, untuk
mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Guru berperan
melindungi dan memelihara kebebasan akademik, serta metode yang dipakai harus
merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan.
V.
DAFTAR PUSTAKA
Sadullah, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2007)
http://masjemmy.com/eksistensialisme.html
http://indramunawar.blogspot.com/2009/03/aliran-eksistensialisme-filsafat-masa.html
http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/01/eksistensialisme/
http://staff.uny.ac.id
mantap neng
BalasHapussalam kenal
trmksi info xe
oyac minta no xe donk buat diskusi
OK